Selasa, 07 November 2017

Mengenal Mitos Munding Dongkol yang Bisa Merenggut Nyawa Manusia






Kamis, 21 September 2017 19:07
 

Laporan Wartawan Tribun Jabar Putri Puspita




TRIBUNJABAR.CO.ID, BANDUNG - Pernah mendengar sebutan Munding Dongkol ?
Munding Dongkol adalah mitos di kawasan Bandung Raya berbentuk kerbau yang disebut sebagai penguasa air.
Munding Dongkol dianggap sebagai siluman yang membahayakan hingga mampu merenggut nyawa manusia.
Sutradara teater Bandoengmooi, Hermana HMT menceritakan pengalaman masa kecilnya.
Ketika itu temannya mengalami dikejar oleh Munding Dongkol hingga menangis.
"Hingga sekarang cerita teman saya menjadi inspirasi, dikolerasikan dengan gaya kekinian," ujar Hermana HMT di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan No 5, Kamis (21/9/2017).
Berdasarkan penelusuran Tribun Jabar, banyak ditulis di sejumlah laman bahwa konon Munding Dongkol adalah sosok yang dipercaya warga yang bermukim di hulu Sungai Citarum.
Kabarnya kemunculan kerbau siluman ini biasanya terjadi ketika air Sungai Citarum akan meluap atau banjir.
Kemunculan kerbau siluman yang sedang berenang di tengah sungai dari arah hulu ke titik batas kekuasaannya, dipercaya sebagai pertanda akan datang banjir besar.
Menurut Hermana, jika dahulu Munding Dongkol berbentuk siluman kerbau, saat ini munding dongkol adalah sampah dan limbah pabrik.
Sampah dan limbah pabrik mampu menimbulkan marabahaya dan penyakit hingga mengakibatkan meninggal dunia.
Pertunjukan teater Munding Dongkol merupakan kritik sosial terhadap maraknya alih fungsi lahan pertanian dan perkebunan, daerah resapan air bersih menjadi pemukiman di kawasan Bandung Utara.
Alih fungsi ini selain menyebabkan berkurangnya sumber air bersih juga menyebabkan banjir di kawasan Bandung tengah, timur dan selatan.
Di sisi lain kebiasaan buruk masyarakat dan perusahaan membuang sampah atau limbah ke sungai menyebabkan air sungai tercemar.
Hal ini tentu akan mengancam kelangsungan hidup masyarakat di sekitar sungai dan ekosistem sungai. (*)

Kamis, 10 Agustus 2017

Bersatu Padu Menjaga Sumber Air Cimahi

WALI Kota Cimahi Atty Suharti membuka pergelaran seni budaya "Ngalokat Cai" dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 Kota Cimahi di Gedung Cimahi Convention Hall (CCH) Kota Cimahi Jln. Rd. Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Kamis 2 Juni 2016.*
CIMAHI, (PR).- Prosesi adat "Ngalokat Cai" membuka pergelaran seni budaya yang menjadi rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15 Kota Cimahi tahun 2016 di Gedung Cimahi Convention Hall (CCH) Kota Cimahi Jalan Rd. Demang Hardjakusumah, Kota Cimahi, Kamis 2 Juni 2016. Kegiatan itu memiliki makna masyarakat harus bersatu menjaga ketersediaan air di Kota Cimahi.
Prosesi diawali dengan 'Ngarak Cai Cimahi', dimana air dari sumber mata dari berbagai kelurahan dan kecamatan di kota Cimahi dimasukan ke dalam kendi. Dilanjutkan dengan prosesi 'Kawin Cai', air dari berbagai sumber ke dalam gentong besar sebagai simbol menyatukan tekad, ucap, dan lampah masyarakat Kota Cimahi. bersatu padu dalam ikatan satu wilayah kota dan satu tanah air sesuai motto Kota Cimahi, "Saluyu Ngawangun Jati Mandiri".
Selain upacara Ngalokat Cai, dalam pergelaran seni budaya kali ini juga menampilkan Sendratari budaya Cimahi serta penampilan dari seni sunda yang lainnya. Budayawan Kota Cimahi sekaligus penggagas upacara, Hermana HMT menjelaskan, upacara ngalokat cai merupakan bentuk motivasi penyadaran terhadap masyarakat dan melambangkan persatuan dan kesatuan.
Hermata menyatakan, kata Cimahi sendiri berasal dari bahasa Sunda dan terdiri dari dua kata, yaitu cai (air) dan mahi (cukup). Jika meruntut pada nama, Cimahi semestinya tidak kekurangan air. "Berarti kita harus menjaga. Jangan mengandalkan pemerintah terus. Masyarakat harus menjaga air, menanam pohon, tidak buang sampah sembarangan,” ucapnya.
Menanggapi hal itu, Wali Kota Cimahi Atty Suharti mengatakan, upacara Ngalokat Cai menjadi momen untuk lebih menjaga ketersediaan air di Kota Cimahi. "Air yang ada kita jaga dan pelihara," ujarnya.
Untuk itu, harus awali dari hal sederhana. Seperti tidak membuang sampah sembarangan dan senantiasa menjaga sungai dan membersihkan lingkungan. "Bagaimana masyarakat dan pemerintah bekerjasama untuk mencapai pembangunan dan menjaga ketersediaan air bagi Cimahi," tuturnya.***

Senin, 24 Maret 2014

Hari Air Sedunia





 

Warga "Beberesih" Mata Air Babakan Loa

CIMAHI, (PRLM).- Peringatan Hari Air Sedunia dilakukan dengan aksi 'beberesih' di lokasi mata air di RW 7 Babakan Loa Kel. Pasirkaliki Kec. Cimahi Utara Kota Cimahi, Sabtu (22/3/2014).
Aksi tersebut diharapkan menjadi bagian pemeliharaan mata air yang tersisa di Cimahi agar dapat dimanfaatkann secara optimal oleh masyarakat Cimahi.
Warga bersama anggota sanggar Bandungmooi melakukan kegiatan 'beberesih' lingkungan mata air Babakan Loa dengan menyapu dan mengumpulkan sampah serta mencabuti ilalang di sekitar mata air.
Warga juga mencat mushola yang menjadi 'benteng pertahanan' mata air Babakan Loa.
Menurut Ketua RW 7, Akim, dulunya terdapat 4 titik mata air di Babakan Loa. "Digerus oleh pembangunan mewah Setraduta, mata air ditutup dan tersisa satu titik. Itupun hasil penyelamatan warga," katanya.
Debit air di mata air Babakan Loa tak terhingga. "Di musim kemarau sekalipun, debit airnya tak berkurang malah kualitasnya lebih bagus dan siap minum," tuturnya.
Air dari mata air Babakan Loa selain dimanfaatkan warga sekitar juga kerap dimanfaatkan oleh warga dari berbagai kelurahan di Cimahi. Seperti Cigugur Tengah, Cibabat, Leuwigajah, sampai warga Sarijadi Kota Bandung. "Karena itu keberadaannya harus dipertahankan," katanya.
Hal serupa diungkapkan oleh pimpinan Bandungmooi Hermana HMT. "Selain berkesenian, anggota sanggar juga harus bisa merasakan dan dirasakan manfaatnya oleh lingkungan. Karena itu, mereka turun ke lokasi mata air untuk melakukan penyelamatan lingkungan," tuturnya.
Pembangunan dan alihfungsi lahan yang tidak berwawasan lingkungan menyebabkan mata air di Cimahi terus berkurang. Apalagi, Cimahi tak memiliki sumber air baku.
"Karena itu, kegiatan ini digelar dalam rangkaian Hari Air Sedunia untuk mengingatkan masyarakat bahwa Cimahi yang dulunya airnya berkecukupan harus diupayakan agar daya dukung lingkungan dapat membantu masyarakat mendapatkan air bersih yang layak. Ini tanggungjawab kita bersama," kata Hermana. (A-158/A_88)***