Jumat, 07 Agustus 2009

Kolaborasi Wayang, Keroncong, dan Teater




MELIHAT judulnya "Wayang Keroncong", timbul sejumlah pertanyaan dalam benak. Apakah ini hal baru dalam pertunjukan wayang atau hanya sebuah judul ?

Pertanyaan ini kemudian terbawa sampai ke suatu gedung pertunjukan, Gedung Dewi Asri STSI Bandung, di mana wayang keroncong dipergelar, Sabtu (2/5). Setelah sekian lama menyimak, ternyata ini benar-benar sebuah pertunjukan wayang walaupun hanya sebentar. Pasalnya, dua buah gebog (batang pisang) terpasang di atas panggung dengan posisi agak miring. Selain itu, tertancap juga sebuah gugunungan terbuat dari kulit dengan ukiran wayang dan tokoh buta yang bermata lebar serta giginya yang tongos dan tajam. Gugunungan itu biasanya digunakan oleh para dalang sebelum, selama, dan sesudah pertunjukan wayang.

Namun ada yang menjadi aneh, karena selain ada gugunungan dan wayang yang dimainkan di atas batang pisang, juga ada beberapa orang mengenakan kain wayang serta sejumlah orang berpakaian seperti biasa. Anehnya lagi meski ada dalang, pertunjukan wayang ini tidak diiringi dengan seperangkat gamelan seperti kendang, saron, bonang, rebab, dan sebagainya. Namun, pergelaran wayang ini diiringi musik keroncong lengkap dengan penyanyinya yang mengenakan kebaya putih mirip penampilan sinden. Bedanya, si penari duduk di luar panggung dan sesekali berdiri ketika melantunkan lagu. Sedangkan sinden, duduk di atas panggung sejajar dengan para nayaga serta tetap duduk ketika melantunkan lagu.

Sedangkan keberadaan orang-orang yang mengenakan pakaian wayang dan pakaian biasa, ternyata mereka adalah para pemain teater dengan berbagai karakter. Mereka memainkan tema cerita yang saat itu berjudul "Cuk dan Cis", yang diangkat dari sebuah cerita pendek karya Vincent Mahieu terjemahan H.B. Jassin. Keberadaan wayang sendiri, hanyalah dijadikan objek tambahan sebagai sebuah teater lama.

Menurut asisten sutradara yang juga pemain, HermanaHMT, sebenarnya pergelaran wayang merupakan sebuah pertunjukan teater yang usianya sudah tua seiring penyebaran agama Islam di tanah Jawa, beberapa abad lalu. Keberadaan seni wayang dijadikan sarana penyebaran agama Islam oleh para sunan yang jumlahnya sembilan atau dikenal Wali Sanga. Penyebaran agama Islam melalui seni wayang, ternyata dinilai lebih efektif. Karena, kala itu masyarakat lebih menyenangi seni budaya, termasuk seni wayang yang relatif baru.

Sebagai sebuah pertunjukan teater, seni wayang tidak pernah dijadikan rujukan atau dipelajari oleh klub-klub teater di Indonesia. Menurut Hermana HMT, klub-klub teater di Indonesia lebih banyak menginduk pada pertunjukan teater modern dari luar negeri. "Padahal, dalam seni wayang sangat sarat dengan adegan, intrik serta pelajaran yang bisa diambil oleh para seniman teater," ujarnya.

Karena itu, Hermana bersama Behindtheactor's mencoba menggelar pertunjukan teater berlatar belakang pergelaran wayang dengan alunan musik keroncong. Hermana HMT ingin menampilkan nuansa baru dalam berteater, yang memadukan unsur teater dengan pergelaran wayang. Boleh jadi, pertunjukan ini merupakan hal baru dalam bidang teater dan wayang golek.

Walaupun demikian, Hermana HMT mengaku tidak ambil pusing jika ada klub teater atau seniman teater termasuk seniman wayang golek dan dalang memprotes pertunjukannya. "Ya, silakan saja mau protes atau tidak. Tapi, saya mau menunjukkan genre baru dalam berteater dan wayang golek," ujarnya.

Tidak gentar

Sementara cerita dari Cuk dan Cis sendiri menceritakan seorang pengembara yang tidak pernah lelah, yakni Cuk. Dia merupakan seorang yang tidak gentar dan pandai berenang ini terus mengembara mencari tambatan hatinya. Cuk yang bernama Gerda ini merupakan seorang gadis yang hidup di zaman Belanda dan mencintai seorang guru musiknya, Tuan Barres. Tuan Barres sendiri hidup di sebuah pemakaman Cina dan Belanda.

Cuk alias Gerda kemudian bersahabat dengan Man. Bersama Man inilah, Cuk berusaha mendapatkan cinta Tuan Barres. Namun cintanya tak terbalas, sampai akhirnya Cuk meninggal di pangkuan Man.

Sedangkan penulis cerpen Vincent Manhieu atau Tjalie Robinson atau Jan Boon, adalah seorang Indo-Belanda yang berprofesi sebagai wartawan dan penulis cerpen. Cerpen pertama berjudul Cis yang berlatar belakang cerita Betawi asli yang selalu menampilkan konflik-konflik dalam keluarga Indis "campuran Indo". Cerpen kedua berjudul Cuk, yang mengingatkan kita pada masa konflik bersenjata antara Indonesia dengan penjajah Belanda. Kedua cerpen tersebut diterjemahkan oleh H.B. Jassin.

Tjalie Robinson atau Vincent Manhieu sangat cinta terhadap tanah Indonesia. Ini terlihat dari cerpen-cerpen karyanya yang banyak menceritakan tentang Indonesia dan segala isinya. Pada 1974, Vincent Manhieu meninggal dunia di Belanda, dan satu tahun kemudian abunya ditaburkan di Teluk Jakarta, di lepas pasar ikan dengan diiringi musik keroncong.

Hal inilah yang mengilhami Hermana HMT untuk mengolaborasikan pergelaran wayang dan teater dengan diiringi musik keroncong, yang kemudian disebut pergelaran wayang keroncong. Selain di Bandung, pergelaran wayang keroncong ini juga ditampilkan di Erasmus Huis Kedutaan Besar Kerajaan Belanda, Jakarta, 13 Mei 2009. (kiki kurnia/"GM"- Diambil dari: www.galamedia.com)**

Kamis, 10 Januari 2008

TERJEBAK

Argus Bandung [News for Culture - Art - Education]
Agensi Berita Bandung - Bandung News Agency
Monday, September 3, 2007

Monolog Hermana Untuk Suyatna Anirun
Monolog Guru Yang “Terjebak”


Sebuah karung di antara dedaunan dan semak-semak meringkuk di tengahnya. Kemudian keluarlah suara manusia yang berujar penyesalan dirinya. Dia teringat saat itu, pada ibu kandung yang telah membesarkannya menjadi seorang bajingan, manusia hina, dan kotor. “Terima kasih ibu, cintamu begitu tulus dan abadi,” katanya di dalam karung itu. Namun katanya lagi, sudah tak mungkin untuk kembali ke dalam rahim sang ibu karena penyesalannya itu. Dosa besar baginya karena telah menjadi manusia kotor yang mencoreng wajah ibu kandungnya.
“Aku bukan Sidharta Gautama yang suci, aku manusia kotor dan hina. Aku terbuang,” ujarnya kemudian. Menyadari keterjebakannya dalam masalah itu ia berontak, ingin pergi. “Aku harus meloloskan diri dari semua masalah ini,” tukasnya sembari mencoba keluar dari dalam karung. Hingga kemudian ia lupa diri. Tapi ia terus menggeliat untuk keluar dari keterjebakannya dalam “karung” masalah itu.
Adegan serius berlanjut dengan masuknya dua orang penari dari pemain “Tubuh Lahir Tubuh Perang” yang sempat dipentaskan di Studio Teater bulan Juli lalu. Akan tetapi kemudian Hermana, pemain monolog “Terjebak”, menjelaskan adegan itu sebagai upaya sabotase dari pemain lain itu. Penonton pun disadarkan akan hal itu hingga membuat tertawa. Hermana keluar dari perannya sebagai guru yang terjebak masalah ekonomi dalam monolog itu. Kemudian berinteraksi dengan para penonton dan membuat sebuah dialog tentang guru. “Guru adalah pahlawan tanpa jasa, bagaimana menurut anda guru itu?” Tanya Hermana kepada penonton. Beberapa penonton angkat bicara menjawab pertanyaan dari Hermana. Ada yang menjawabnya dengan pernyataan keprihatinannya terhadap figur guru. Ada juga yang menjawab bahwa menjadi guru itu baik. “Saya merasa tidak terjebak menjadi guru. Saya senang menjadi guru, karena guru adalah jalan dakwah bagi saya, bukan profesi,” tutur Rahmat, 35 tahun, salah seorang penonton monolog itu.
Suasana cair itu kembali diarahkan pada pementasan oleh Hermana. Saat itu ia menjadi tokoh guru dalam perannya membawakan monolog Terjebak. Pementasan yang digelar dalam rangka ulang tahun Jurusan Teater STSI Bandung yang ke 29 di Gedung Patanjala, STSI Bandung kemarin (24/8). “Guru adalah pilar pembangunan bangsa. Karena guru lahirlah seorang pengusaha, tentara, wartawan, bahkan pejabat,” katanya. Semua penonton merasa diyakinkan oleh Hermana bahwa profesi guru adalah mulia. Namun demikian Hermana dalam perannya menjelaskan keadaan ekonomi guru-guru honorer yang diberi imbalan tidak memadai.
Suasana tragis pun terbangun dengan ujaran Hermana dalam pentas Terjebak itu. Kemudian muncul rekaman gambar seputar peristiwa demonstrasi pendidikan dan demonstrasi guru di beberapa kota. Adegan berlanjut dengan kisah dirinya yang menjadi guru honorer. Ketika itu ia menceritakan suatu kejadian runtut yang menyebabkan dia mati sebagai manusia. Yaitu ketika anak kesayangannya sakit dan dirawat di rumah sakit. Ketika itu ia tidak memiliki uang untuk menebus biaya rumah sakit. Karena itulah ian memberanikan diri untuk menjual buku kepada murid-murid yang diajarnya. Karena gaji guru honorer tidak mencukupi untuk membayar biaya rumah sakit.
Dalam kisah itu dia tertangkap oleh aparat karena tindakannya menjual buku kepada murid. Meski akhirnya dia dibebaskan, namun rasa bersalah teru menghantuinya. Maka dia menerima surat keputusan yang memberhentikannya sebagai guru honorer secara tidak hormat dari sekolah. Dia kemudian beralih profesi menjadi seorang pemulung. Namun profesi itu tidak juga menyejahterakan keluarganya. Anak dan istrinya sangat merindukan dia pulang. Namun dia belum mempunyai cukup uang untuk keluarganya di kampong.
Ekstasi kesulitan ekonomi dalam hidupnya divisualkan dengan adegan dikotik. Lagu “Kucing Garong” diperdengarkan dan dia menari di sana. Adegan ini lebih nampak sebagai puncak keputus-asaan dirinya yang tidak mampu mencari nafkah yang layak. Kesan hiburan di diskotik pun tidak terasa sebagai adegan hiburan.
Bencana tragis dalam hidupnya yang telah menjadi mantan guru it uterus berlanjut. Dia menerima sepucuk surat dari istrinya. Sebuah surat yang berisi kerinduan seorang istri dan anak kepadanya. Belum sempat dia membalas surat itu terdengar kabar bahwa kampunya dilanda bencana. Rekaman bencana nasional yang menimpa masyarakat Indonesia beberapa saat lalu, seperti banjir, gempa bumi, dan tsunami, ditayangkan pada layar di belakang panggung.
Saat itu dia hanya bisa meratapi tubuh anaknya yang sudah menjadi mayat. Rumahnya hancur berantakan. Istrinya entah di mana terkuburnya. Suasana sedih pun dihantar dengan alunan komposisi musik yang berisi puisi “Kemerdekaan” buah karya Toto Sudarto Bachtiar, yang dibacakan oleh seorang gadis kecil. Pertunjukan monolog Terjebak ditutup dengan gambar bendera merah putih pada layar di belakang panggung, sementara dia terkujur di tanah dengan kain putih yang menutupinya. *** Repertoar monolog Hermana yang berjudul “Terjebak” dikemas dengan sentuhan teknologi melalui sajian gambar-gambar hidup berupa video dokumenter dan animasi - multimedia di pentas. Penciptaan suasana tragis tokoh guru honorer yang dibawakan oleh Hermana itu tentu saja terasa lebih dramatis dan artistik, meskipun secara visual masih jauh dari kesempurnaan karena faktor peralatan media yang digunakan sangat terbatas kualitasnya.
Sementara itu, akting Hermana menggunakan konsep “Teater Sabrehna”. Bentuk teater Sabrehna menjadi ciri khas repertoar Hermana. Metode Brechtian, salah satu akar konsep Sabrehna, sendiri adalah teori pembawaan peran (akting) yang berasal dari teater anti ilusi atau antitesa dari proses empati yang disuguhkan oleh Aristoteles. Teater Verfremdungseeffekt (teater efek - pengasingan) atau alienasi, menegaskan adanya efek pengasingan yang muncul oleh alur cerita yang tidak berhubungan secara sebab-akibat, terpisah dan hanya terhubung oleh tema sentral. Pemain justru harus menjaga jarak dengan peran, sehingga pemain dapat berdialog dengan perannya sendiri. Itulah ciri teater epis Brecht.
Konsep teater Sabrehna dalam repertoar “Terjebak” juga repertoar sebelumnya diambil dari bahasa Sunda yang artinya seadanya, senyatanya. Jadi, teater Sabrehna adalah sabrehna apa yang dilihat, sabrehna apa yang dipikirkan, sabrehna apa yang dirasakan, dan sabrehna apa yang digerakkan dalam koridor kesadaran penuh tanpa mengesampingkan etika dan kekuatan estetik sebagai pertanggungjawaban kepada publik. “Main-main dalam bermain, tapi tidak main-main,” kata Hermana dalam proses latihan suatu produksi teater. Ia menekankan bahwa kesanggupan pemain itu harus ada ketika sedang bermain, berakting, dan adanya kesadaran untuk berkomunikasi dengan publik.
Konsep ini menjawab pertanyaan para kritikus dan penulis pertunjukan selama ini. Yakni ditunjukan dengan interupsi adegan ketika Hermana berada di tengah penonton dan berdialog dengan penonton secara langsung. “Jangan takut, jangan tegang! Ini bagian dari pertunjukan,” ujar Hermana kepada salah seorang penonton yang duduk di kursi paling depan yang terlihat tegang atau mungkin terganggu konsetrasinya saat menonton. Pada momen ini suasana pertunjukan agak cair, hingga kemudian Hermana memberi kesempatan kepada penonton untuk berkomentar tentang sosok dan peranan guru bagi masyarakat. Aktor turun ke area penonton memang tidak lazim ditemukan dalam pementasan teater realisme. Hermana melakukan hal ini karena konsep Sabrehna yang dipakainya.
Pertunjukan atau akting Hermana itu berlanjut lagi. Di atas pentas ia menjadi tokoh guru kembali. Dengan intensitas dan kesungguhan membawakan tokoh perannya. Kesedihan dengan air mata yang keluar terkesan benar-benar sedih. Ketika ia mengisahkan kisah sedih yang menimpa keluarganya. Hermana mengakui itu kepada saya dalam wawancara singkat setelah pertunjukan usai, bahwa tangis di atas pentas tadi benar-benar ekspresi kesedihannya terhadap guru-guru honorer di Indonesia. Jadi, air mata itu memang air mata sungguhan. Bentuk ekspresi ini kemudian disebutnya dengan kesungguhan memerankan tokoh di pentas. Jadi, memang tidak main-main.
Lakon “Terjebak” yang ditulisnya sendiri, dipentaskan sendiri, dan disutradarai sendiri ini merupakan sebuah repertoar yang dipersembahkan kepada seorang guru aktor di Bandung bahkan Indonesia, yaitu almarhum Suyatna Anirun.

ENDGAME


ENDGAME; Mengenang 100 tahun Beckett. Sebuah Refleksi Kegamangan Hidup.

Oleh :Hermana HMT

Pada umumnya manusia akan berusaha menghidar dari berbagai penderitaan yang menerpa dirinya. Ia akan mencari kesempurnaan hidup, yang senantiasa bisa mengiringi entitasnya. Walau kenyataan menunjukan, bahwa pada dasarnya manusia tidak ada yang sempurna. Tapi bersama ‘ego’ yang dimilikinya ia akan mencoba dan mencoba lagi memperjuangkan eksistensinya. Menunjukan, bahwa aku ada karena aku membuatku ada, aku bisa karena aku membuaku bisa. Dengan itu kesempurnaan sebagai manusia akan nampak, meskipun sekedar mendekati kesempurnaan.
Manusia hidup selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihannya dan pilahan itulah yang akan membawa dirinya. Manusia akan bertanggung jawab atas hidupnya, apakah ia ingin hidup penuh kebahagian atau berada dalam penderitaan, apakah ia ingin berubah atau tidak. Tidak ada yang bisa memutuskan kecuali dirinya sendiri dan kepetusan itu tentunya bukan semata untuk dirinya melainkan tanggung jawab terhadap semua manusia.
Ia yang bukan apa-apa. Ia tidak akan menjadi apa-apa sampai ia menjadikan hidupnya apa-apa. Manusia adalah manusia itu sendiri. Bukan bahwa ia adalah apa yang ia anggap sebagai dirinya, tapi ia adalah apa yang ia ingini, dan ketika ia menerima dirinya setelah mengada – ketika apa yang ia ingini terwujud setelah meloncot ke dalam eksistensinya. Manusia bukanlah apa-apa selain apa yang ia buat dari dirinya sendiri. …. Ketika seseorang mengikatkan diri pada sesuatu, sepenuhnya menyadari bahwa ia tidak hanya memilih ia akan menjadi apa, tetapi juga sekaligus seorang ligislator yang memutuskan bagi seluruh umat manusia. Dalam situasi seperti ini, ia tidak dapat lari dari rasa tanggung jawab yang komplit dan mendalam ( JP. Sartre:1960 ).
Kesadaran manusia dengan keinginannya berbuat sesuatu yang baik untuk dirinya (sekaligus juga bertanggung jawab untuk manusia lainya), paling tidak harapan untuk mengakhiri sebuah penderitaan akan segera mewujud. Tapi apabila keputusasaan hinggap di jiwanya, tentu akan lain lagi. Dengan sendirinya manusia meruntuhkan eksistensinya, bahkan melenyapkan makna keberadaannya. Ia pun akan berada di dunia penuh kegamangan, sunyi, kosong dan tak berarti apa-apa, kecuali bergelut dengan segenap penderitaannya.
Tidak mau beranjaknya manusia dari penderitaan sebenarnya merupakan sebuah pilihan pula. Ia merasa kehidupan seperti itu harus dijalani sepenuhnya. Engame adalah sebuah lakon karya dramawan dunia - Samuel Beckett merupakan sepenggal kisah manusia yang mengisaratkan gejala psikologis dan sosiologis seperti itu. Sisa kehidupan yang hancur berkeping-keping dibeberapa belahan dunia akibat peperangan menorehkan sisi gelap yang amat getir bagi kehidupan manusia. Menyeret dirinya ke dalam situasi yang ganjil, sia-sia, mustahil, serta penderitaan yang berkempanjangan, sehingga menempatkan manusia berada di tingkat absurditasnya - menjadi manusia absurd.
Lakon Endgame ini mengisahkan seseorang bernama Hamm, manusia buta, lumpuk dan selalu menggunakan kateter agar bisa kencing. Ia menjalani seluruh hidupnya di atas kursi beroda, di sebuah ruangan sejenis gudang jauh di bawah tanah. Ada Clov, teman sekaligus pelayan setia Hamm. Ia tidak bisa duduk karena ada kelainan dikakinya. Dua tokoh lain, Nagg dan Nell adalah ayah dan ibu kandung Hamm yang senantiasa merecokinya. Mereka yang buntung ( tanpa memiliki kaki ) menghabiskan hidupnya di dalam dua tong abu terpisah.
Hamm yang sangat berambisi untuk mengetahui kondisi dunia luar senantiasa menanyakan kepada Clov. Namun setiap pertanyaan yang terlontar, Clov selalu memberikan jawaban yang sama, bahwa di luar tidak ada apa-apa kecuali kekosongan dan kegelapan. Selain itu Hamm pun selalu bertanya, apakah dia sudah waktunya minum obat, dan Klov dengan tegas menyatakan bawah obot untuk menahan rasa sakit belum waktunya untuk di minum. Sementara di sisi lain Clov pun selalu barkata pada Hamm bahwa ia akan pergi meninggalkan semuanya. Hamm mencoba menahanya dengan doktrin-doktrin, bahwa tidak ada tempat selain di ruangan ini, bila ada tempat lain, tempat itu adalah neraka. Walau demikian Clov masih saja berisi keras untuk pergi, tapi baru sampai di dapur nyatanya ia tidak bisa pergi lebih jauh, dan bersama kekesalannya ia pun kembali lagi mendampingi Hamm.
Semakin berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan dan beban yang dideritanya, semakin mengumpal pula penderitaan yang mereka rasakan, dan pada titik kulminasi ketidaksepahaman diantara mereka, dengan polos Klov berkata pada Hamm bahwa obat penahan rasa sakit sudah tidak ada lagi. Hamm semakin tepukul. Satu-satunya harapan yang sangat ditunggu-tunggu ternyata hanya harapan kosong. Tak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali dengan menutup pembicaraan dan segala aktifitasnya. “ Permainan sudah berakhir”, begitulah kata Hamm. Akhirnya kesadaran akan diri sabagai mahluk yang terbuang dalam kehampaan tak bermakna itu, dengan keharuan yang mendalam Hamm dan Clov melumerkan kebekuan masing-masing hatinya dengan saling berterimakasih atas segala yang pernah mereka terima, baik atas kebaikan dan keburukannya.
Dalam kisah Endgame, Beckett mengajak kita untuk lebih merasakan betapa konyolnya dan tak berarti apa-apa hidup di dunia ini. Manusia seperti berada di dalam labirin. Ia kehilangan tujuan hidup, kehilangan harapan dan kehilangan cita-cita. Jiwa raganya terakumulasi dalam kehampaan eksistensi, dan kecacadan fisik yang dimiliki setiap tokoh menjadi pelengkap derita yang tak kunjung berakhir. Menegaskan manusia sebagai mahluk yang absurd dan menjalani hidunya dengan cara yang absurd pula.
**
Samuel Beckett bernama lengkap Samuel Barclay Beckett. Ia lahir di Foxrock, Dublin, Irlandia, pada tanggal 13 April 1906 dan meninggal di Paris, tanggal 22 Desember 1989. Pada usia 21 tahun ( 1927 ) ia telah menyelesaikan jenjang pendidikan Bachelor of Arts ( BA. ) dengan predikat sangat memuaskan di bidang sastra Italia dan Prancis. Kemudian, berkat dorongan guru-guru besarnya ia di kirim ke Prancis untuk mengajar bahasa Inggris di Ecole Nomale Superieure di Paris tahun 1928. Dua tahun kemudian ia kembali ke tempat kelahirannya untuk mengajar bahasa dan sastra Prancis di Trinity College sekaligus menyeselesaikan Masternya. Tahun 1932 ia kembali lagi ke Paris dan tidak lagi meneruskan kariernya dibidang pendidikan, tapi ia lebih memilih sebagai penulis esai dan sastra dengan bergabung di kelompok kesenian.
Karya-karya Beckett banyak ditulis dalam bahasa Inggris dan Prancis. Selain menulis puisi dan novel Beckett pun menulis lakon – Menunggu Godot merupakan lokon pertamanya yang dibuat dan mengantarkan dirinya meraih hadiah Nobel tahun 1969 untuk bidang kesusastraan, tapi sebelumnya ia pun telah meraih berbagai penghargaan dibidang seni dan sartra yang diantaranya, Obie Award, Itali Prize dan disusul penghargaan lainnya seperti dari National Grand Prize for Theaterm New York Drama Critics Circle Citation.
Sebagai lakon kedua yang ditulis Beckett, Endgame hampir memiliki kesamaan tema dengan lakon pertamannya, Menunggu Godot. Selain anti plot, juga memiliki ciri khas mengenai kecacadan fisik pada setiap tokohnya. Dalam Menunggu Godot tokoh Gogo memiliki kesulitan dengan kakinya, Didi sulit buang air kecil, Pozzo dan Lucky tokoh yang bisu dan tuli. Sedangkan dalam lakon Endgame tokoh Hamm bermasalah dengan kepalanya, matanya buta dan kakinya lumpuh, Clov tidak bisa duduk karena kakinya tidak bisa dibengkokan, Nagg dan Nell tidak memiliki kaki sama sekali ( buntung ). Sementara yang membedakan dari kedua lakon itu adalah : Menunggu Godot titik beratnya lebih pada “menunggu yang tidak kunjung datang”, sedangkan Endgame lebih pada “kerpergian yang tidak pernah terjadi”.
Kegetiran dan tekanan batin yang bergejolak dalam karya-karya Beckett, dengan latar belakang paska Perang Dunia II itu dirasakan pula pada kondisi kehidupan kita sekarang ini. Menunggu dalam ketidakpastian, lalu berusaha mencari jalan keluar tapi hampir semua pintu tertutup rapat dan kita pun kesulitan menemukan kunci pembukanya. Kalau kita hitung semenjak krisis ekonomi tahun 1997, hampir setiap saat rasanya bangsa ini tidak henti-henti dirundung duka cita. Teror bom, banjir, gempa, tsunami, longsor, perang saudara, kerusuhan, pemutusan hubungan kerja, kelaparan, berbagai wabah penyakit, korupsi, hukum yang mandul menjadi hiasan sehari-hari. Menguras air mata, memeras pikiran, menyedot tenaga dan kita senantiasa mengurut dada setiap saat. Kapan semua ini berakhir ?
Pertanyaan besar itu sering kali menyulitkan kita untuk menjawabnya. Karena setiap kali berusaha menjawab, masalah datang lagi - datang lagi dan terkadang jawaban yang ditawarkan itu sendiri menjadi masalah baru. Ketika merasa kesulitan untuk mempercayai lagi akan segala solusi atau jawaban yang ditawarkan, lantas masyarakat berusaha mencari jawabannya sendiri. Tapi mereka pun tidak memiliki jawaban yang pasti dan akhirnya masalah kian menumpuk, lalu penderitaanpun berkepanjangan sampai saat ini. Tidak ada lagi permainan yang cantik atau mengalir penuh daya hidup. Semuanya menjadi gamang dan berakhir tanpa penyelesaian yang jelas.
**